11 Amalan Sunah Bulan Puasa Ramadhan Yang Dicontohkan Rasul SAW

Gambar
11 Amalan Sunah Bulan Puasa Ramadhan Yang Dicontohkan Rasul SAW — Bulan Ramadhan bagi umat muslim seluruh dunia merupakan bulan penuh berkah, hikmah dan ampunan, karena berbagai amal perbuatan dapat menjadi pahala yang berkali lipat.  Maka dari itu, merupakan hal yang sia-sia jika pada kesempatan bulan Ramadhan ini kita tidak berlomba-lomba mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Umur seseorang hanya Allah SWT yang mengetahuinya, selagi kita masih bertemu bulan Ramadhan bulan seribu bulan ini, sangat beruntung bagi umat muslim yang mau menjalankan sunah-sunah demi mengejar pahala. Nabi besar kita, Muhammad SAW telah mencontohkan kepada umat amalan sunah-sunah yang dapat dilakukan pada bulan suci Ramadhan. Jadi apalagi yang kita tunggu? Berikut ini beberapa sunah ibadah sesuai sunnah Rasul SAW. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183] Berikut ini adalah amalan-amalan yang dianjur...

SUBHANALLAH!!! MALAIKAT MENANGIS SAAT MENCABUT NYAWA WANITA INI

Malaikat Maut pernah menangis saat mencabut nyawa seorang wanita. Kisahnya yang mengharukan dicantumkan dalam Tadzkirah oleh Imam Qurthubi.

“Aku pernah menangis saat mencabut nyawa seorang wanita,” kata Malaikat Maut. “Saat itu ia baru saja melahirkan di padang pasir. Aku menangis saat mencabut nyawanya karena mendengar bayi tersebut menangis dan tidak ada seorang pun ada di sana.”

SUBHANALLAH!!! MALAIKAT MENANGIS SAAT MENCABUT NYAWA WANITA INI

Tanpa sepengetahuan Malaikat Maut, karena ia hanya ditugaskan untuk mencabut nyawa, Allah Subhanahu wa Ta’ala lantas menyelamatkan bayi itu dengan caranya hingga kemudian ia tumbuh besar dan menjadi seorang ulama yang dicintaiNya.

Dalam riwayat lainnya diceritakan kisah yang berbeda. Malaikat Maut ditugaskan mencabut nyawa seorang wanita yang tenggelam di sungai. Yang membuatnya menangis, wanita itu memiliki dua anak yang masih kecil. Kedua anak itu tidak ditakdirkan meninggal sehingga mereka selamat sampai ke tepian, bahkan Malaikat Maut ikut membantunya menepi.

Menyaksikan dua anak yang masih kecil tersebut, Malaikat Maut menangis karena ia harus mencabut nyawa ibunya. Mereka akan menjadi anak-anak sebatang kara.

Tahun demi tahun berlalu, dua anak itu akhirnya tumbuh dewasa. Dan dengan izin Allah, kedua anak itu sama-sama menjadi raja di dua daerah yang berbeda.

***

Kita tidak pernah tahu kapan Malaikat Maut akan datang mencabut nyawa. Satu yang pasti, tak akan ada yang mampu memajukan dan menunda kematian sesaatpun ketika Allah sudah menetapkan waktunya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al A’raf: 34)

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. Yunus: 49)

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Munafiqun: 11)

Bahkan meskipun Malaikat Maut iba pun, hal itu takkan menunda kematian yang telah dijadwalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’la.

Namun, kita juga tak boleh terlalu takut dengan masa depan anak-anak dan keturunan kita. Mereka hidup, tumbuh dan besar bukanlah karena kita tetapi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti kisah di atas, bahkan ditinggal oleh orangtuanya sekalipun, Allah yang akan menjaga mereka.

Yang justru perlu kita persiapkan dan lebih kita perhatikan adalah bekal kita menghadapi kematian. Siapkah kita menghadapi alam barzakh. Siapkah kita menghadapi hari kebangkita. Siapkah kita menghadapi yaumul hisab saat seluruh amal kita dibuka di hadapan seluruh makhluk. Sudahkah kita memikirkan, seandainya Malaikat Maut datang secara tiba-tiba kepada kita, di mana tempat tinggal kita nantinya; surga atau neraka?.


Komentar

Postingan populer dari blog ini